Tracer Study

Tracer Study

DSC00150

DSC00178

DSC00175 Profesi Gizi merupakan salah satu cabang ilmu kesehatan yang berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir. Saat ini, kebutuhan tenaga gizi semakin meningkat dan perannya semakin diperhitungkan. Untuk menggali kebutuhan masyarakat akan tenaga Gizi, Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga mengadakan kegiatan Tracer Study 2015.
Acara yang diselenggarakan pada 4 Desember 2015 tersebut dihadiri oleh perwakilan dari beberapa instansi baik swasta maupun pemerintah sebagai pengguna tenaga gizi, seperti Dinas Kesehatan, Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta, LSM, dan BPOM. Selain itu, turut hadir pula para alumni Program Studi S1 Ilmu Gizi.
Kegiatan ini diawali dengan pemaparan kurikulum Prodi S1 Ilmu Gizi FKM Unair oleh Tim Kurikulum, kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi. Pada sesi pertama diskusi yang membahas tentang kompetensi akademis atau hardskill, peserta dari masing-masing Instansi diminta memberikan informasi mengenai kompetensi akademis Sarjana Gizi seperti apa yang dibutuhkan oleh masing-masing instansi. Di sesi 1 ini peserta dan pengelola Program Studi juga mendiskusikan mengenai aspek-aspek akademis apa yang dirasa masih kurang dimiliki oleh lulusan S1 Ilmu Gizi Unair. Hasil diskusi sesi ini menghasilkan banyak masukan untuk Prodi S1 Gizi Unair, diantaranya perlu adanya penguatan beberapa kompetensi spesifik yang terkait dengan bidang gizi klinik, masyarakat, maupun food service.
Di sesi 2, bahasan beralih pada kompetensi softskills yang dicari oleh stake holder, serta diskusi mengenai softskills apa yang dirasa masih kurang dimiliki oleh lulusan. Dari diskusi dan pemaparan peserta, diketahui bahwa keaktifan, kemampuan komunikasi, dan kerjasama team merupakan aspek yang sangat dibutuhkan dan dicari oleh stake holder. Acara kemudian ditutup dengan makan malam bersama.
Sebagai salah satu institusi pencetak Sarjana Gizi, masukan yang diberikan oleh narasumber, yaitu perwakilan instansi-instansi, serta para alumni memberikan kontribusi yang besar kepada Prodi S1 Gizi Universitas Airlangga sebagai penyelenggara kegiatan. Hasil dari acara Tracer Study 2015 ini tentunya akan menjadi pertimbangan bagi Program Studi S1 Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga untuk semakin berbenah diri demi menghasilkan lulusan yang unggul dan dapat diterima oleh masyarakat.

 

Studi Banding Penyelenggaraan Program Profesi Gizi – UGM Yogyakarta, 8 Desember 2015

Studi Banding Penyelenggaraan Program Profesi Gizi – UGM Yogyakarta, 8 Desember 2015

DSC00291DSC00327

DSC00325 

 

 

 

 

Studi banding Program Studi Studi S2 Gizi FKM Universitas Airlangga dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2015 mengunjungi Program Studi Gizi Kesehatan FK UGM yang merupakan penyelenggara pendidikan profesi gizi pertama di Indonesia. Peserta Studi Banding, yaitu staff pengajar Program Studi Ilmu Gizi FKM UNAIR, melakukan observasi dan diskusi bersama dengan pimpinan dan staf pengajar dari Prodi Gizi UGM untuk menggali persiapan apa saja yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Gizi.
Berdasarkan hasil diskusi, diketahui bahwa naskah akademik Program Profesi yang disepakati oleh tim AIPGI sebenarnya telah tersusun, namun nomenklatur profesi Gizi masih belum mendapat persetujuan DIKTI. Hal ini menyebabkan pembukaan Program Pendidikan Profesi Gizi belum dapat terlaksana. Dalam naskah akademik yang disepakati, diketahui bahwa untuk mendapatkan gelar profesi Gizi, nantinya mahasiswa dituntut untuk menempuh waktu pembelajaran sebanyak 1792 jam atau setara 28 SKS yang ditempuh dalam waktu 38-45 minggu (2 semester). Dalam kurun waktu tersebut, mahasiswa harus memenuhi persyaratan dan rotasi tertentu untuk mendapatkan gelar profesional sebagai “Dietitian”. Adapun rotasi yang harus ditempuh oleh mahasiswa dalam program profesi ini rotasi gizi klinik, gizi masyarakat, food service management, dan rotasi pilihan yang bisa diberikan sesuai dengan kekhasan yang ingin diangkat oleh masing-masing Universitas atau penyelenggara, misalnya Gizi Olahraga, Gizi Kedaruratan, dll.
Metode pembelajaran dalam penyelenggaraan pendidikan profesi menggunakan beberapa sistem, antara lain: Bed Site Learning (BSL), Practiced-Based Learning, tutorial klinik, referat dan preferensi kasus dan seminar. Untuk menunjang sistem perkuliahan yang bervariasi, perlu disiapkan saranan dan prasarana yang memadai terutama lahan praktek. Hal lain yang tidak kalah penting untuk dipersiapkan adalah tenaga pembimbing. Ada dua jenis pembimbing dalam program pendidikan profesi, yaitu instruktur dan pembimbing lahan. Instruktur adalah profesional yang sifatnya tidak harus melekat dengan institusi lahan, dan telah mendapatkan pelatihan instruktur yang diselenggarakan oleh ITFI (Intensive Training for Instructur). Tugas instruktur ini adalah melakukan supervisi intensif kepada mahasiswa bimbingannya di lahan praktek. Satu instruktur akan membimbing maksimal 4-5 mahasiswa saja. Adapun persyaratan menjadi instruktur adalah mempunyai sertifikat ITFI yang diselenggarakan oleh AIPGI serta pendidikan minimal S2 gizi, Profesi Gizi atau S2 dengan pengalaman minimal 5 tahun.
Pembimbing lahan adalah praktisi yang bekerja di institusi lahan praktek, dengan persyaratan telah memiliki pengalaman kerja minimal 5 tahun, dan telah menempuh pendidikan tinggi, minimal DIV atau S1. Masih ditemui banyak kesulitan dalam memenuhi kriteria pembimbing lahan praktek di institusi tertentu, misalnya misalnya fitness center, restoran, dan lain-lain. Untuk menyiasati kekurangan tersebut, maka persyaratan pembimbing lahan untuk rotasi-rotasi tertentu akan diturunkan satu level.
Untuk mengukur ketercapaian kompetensi dietisien, di akhir program profesi gizi dilakukan uji komprehensif (exit exam) sebagai persyaratan mendapatkan gelar profesi (Dietisien). Tahapan menjadi profesional bidang gizi tidak berhenti sampai tahap ini saja, seorang dietisien harus mengikuti uji kompetensi untuk mendapatkan ijin praktek dan diakui sebagai tenaga Registered Dietisien (RD). Penyelenggara uji kompetensi untuk RD adalah dibawah kewenangan DIKTI.